“Kita ingin mereka diakomodir, karena seperti di Singapura atau di Paris juga ada PKL di depan toko-toko. Kita maunya mereka tetap bisa beraktivitas tapi mesti diatur. Kita lagi cari bagaimana caranya supaya bisa lebih teratur,” kata Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (21/5/2014).
Cara pengaturannya, dia mencontohkan, yakni dengan membuat areal khusus berjualan di taman-taman. Bisa juga di tepi jalan di kawasan tertentu. Ahok ingin meniru kawasan Orchad Road di Singapura yang banyak diisi oleh PKL.
“Nanti tiap wilayah dibikin taman yang punya areal untuk PKL. Karena kita tidak bisa lagi menutup mata untuk pekerja sektor informal itu,” ujarnya.
Hal ini disampaikan Ahok usai menonton film 'Jalanan' bersama jajaran birokrat di lingkungan Pemda DKI Jakarta, yang digelar di ruang Balai Agung, Balai Kota. Film itu berkisah tentang tiga pengamen yang berjuang mengarungi kehidupan di Ibukota.
Salah satu adegan film mengisahkan Ho, salah satu pemain utama ketika dirazia oleh dinas sosial. Di panti rehabilitasi dinsos, pengamen tersebut bertemu banyak pengamen lain korban razia, dari usia anak-anak hingga orang tua. Adegan itu ternyata sangat berkesan bagi Ahok.
“Saya enggak mau ada pendekatan razia kayak tadi. Tidak ada lagi satgas-satgas kayak tadi. Mereka harus dijangkau dengan ngobrol, biar enggak ada lagi yang dipenjara kayak tadi di film. Ini sangat menyedihkan,” kata Ahok dengan mata berkaca-kaca.
Posting Komentar